be a mother

Aku tidak suka masuk sekolah di siang hari. Mengapa? Karena aku adalah orang tipe bangun pagi. Kalau aku sekolah siang, aku mudah untuk lelah. Nggak fresh lagi. Lagipula, aku sangat menyukai tidur siang, karena kau tahu, tidak ada istilah “tidur siang” untuk remaja saat ini. Yah, tidur siang merupakan istirahat sehat yang terlupakan.

Waktu di sekolah, aku merasa perutku ada yang aneh, tapi aku abaikan. Aku pikir tidak sempat untuk istirahat karena guru sudah masuk dan ulangan dimulai, okelah. Aku mengabaikannya.

Setelah selesai, ada tugas kelompok. Jadi sambil ngobrol bareng temen-temen, aku ngerjain naskah buat drama nanti. Lagi-lagi ada yang aneh dari perutku, tapi aku berusaha mengabaikannya.

Tanpa sadar, langit berubah menjadi gelap sekali. Aku baru menyadari ketika aku mendengar kaca jendela bergetar pelan. Aku selalu melihat ramalan cuaca di TVRI (yes, i love TVRI!) dan akan ada hujan itensitas lebat. Wah, feeling jadi nggak enak. Jadi aku memutuskan untuk pamit untuk pulang duluan.

Aku pulang dengan becak (yeah) dan becaknya ngebut! Dia sampai bela-belain nembus lampu merah(hell yeah semua becak begitu), dan nyalip sepeda motor(ciyus ini). Lalu perutku bergulak menjadi-jadi. Awan hitam yang kental membuatku takut, apalagi aku paranoid dengan petir. Aku ingin segera pulang. Secepatnya.

Tapi nasib baik tidak berpihak padaku, tiba-tiba hujan deras dan kilat sesekali membutakan mata. Aku makin takut. Rasanya aku kembung… kemudian aku menyadari, aku belum makan. Aku hanya makan dua bungkus chocolatos dan beberapa teguk air mineral…

Dingin menusuk kulitku. Sial juga lupa nyuruh tukang becak masang plastik, tapi sebodo ah udah kelanjur. Aku makin menggigil, debu-debu menerpa wajahku, aku susah bernapas, apalagi untuk melawan angin.

Sesampai di rumah, aku beberapa detik membiarkan diriku terguyur hujan. Biarkan saja… Rasanya aku tidak peduli pada diriku sendiri. Menikmati hujan polusi itu dengan menyenangkan…

Sewaktu aku membuka rumah, ibuku sudah berdiri di ruang tengah. Kemudian dia ngomel kenapa pulangnya lama sekali…. aku mengabaikan omelannya, langsung menuju kamar mandi dan…muntah.

Ibu langsung berhenti mengomel. Tampaknya ia khawatir. Ia mengurut punggungku dan ngomel lagi, “lepas bajunya dulu baru muntah”.  Yah, petuah yang baik. Jadi aku langsung mandi air hangat dan tidur. Badanku serasa remuk, pusingku tidak kunjung reda. Kemudian aku terlelap dan tidak bergerak sedikit pun.

Beberapa saat kemudian, aku terbangun. Di luar masih berisik karena hujan. Tiba-tiba aku memandang dua hal; sepiring nasi dengan sarden dan segelas teh hangat, Wah, aku merasa lemas sekali. Tapi aku berusaha memakannya. Makanan sederhana yang membuat hidupmu lebih baik… Aku menikmatinya. Mungkin ibu tidak tega membangunkanku… Aku jadi mengerti betapa berharganya ketulusan seseorang…

Malam menjelang isya’, aku keluar dari kamarku. Aku merasa lebih baik meskipun tetap lemas. Sambil terhuyung-huyung, aku melihat Ibu tertidur di sofa ruang tengah dengan tv yang menyala. Aku berspekulasi, dia menunggu Ayah pulang dari dinas, menunggu Kakakku pulang dari kuliahnya, dan menungguku untuk sembuh…

Bahkan dengan satu tangan, ia sanggup melakukannya…

Aku ingin menangis, tapi sulit karena aku masihlah lemas. Jadi aku mematikan tv dan lampu ruang tengah, membuatkan teh dan meletakkannya di sampingnya, kemudian menyelimutinya…

dan berdoa…

i’m proud to have a mother like you….